Arsip untuk ARTIKEL kategori

ILMU

Posted in ARTIKEL on Mei 28, 2007 by yuzvin

Ilmu merupakan salah satu nilai yang luhur yang dibawa oleh Islam dan yang tegak di atasnya kehidupan manusia baik secara moril maupun materiil, duniawi maupun ukhrawi. Islam menjadikannya sebagai jalan menuju keimanan dan yang memotivasi amal. Sekaligus karunia (ilmu) ini pula yang membuat manusia diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi ini. Karena dengan ilmu tersebut, Adam sebagai bapak manusia diberi kelebihan atas Malaikat (dan makhluk yang lain) yang sempat penasaran sehingga mempermasalahkan pemberian amanah ini. Dengan alasan bahwa mereka (para Malaikat) lebih aktif beribadah kepada Allah daripada manusia yang suka membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah. Maka Allah menjawab:

“Sesungguhya Aku mengertõ apa-apa yang kamu tidak mengelahui(nya) dan Allah mengajarkan Adam beberapa nama seluruhnya.” (Al Baqarah: 30-33)

Sesungguhnya Islam adalah agama ilmu, dan Al Qur’an adalah kitab ilmu. Ayat-ayat Al Qur’an yang pertama kali turun kepada Rasulullah SAW adalah “Iqra’ bismi Rabbikal ladzii khalaq.” Membaca adalah kunci untuk memahami ilmu, dan Al Qur’an merupakan “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang berilmu.” (Fushshilat: 3)

Al Qur’an telah menjadikan ilmu sebagai asas dan standar kemuliaan antara manusia. Allah SWT berfirman:

“Apakah sama orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu.” (Az Zumar: 9)

Sebagaimana juga AL Qur’an telah menjadikan ahlul ilmi sebagai syuhada’ (orang-orang yang bersaksi) terhadap keesaan Allah bersama para Malaikat, Allah SWT menjelaskan dalam firmanNya:

“Allah menyatakan bahwasannya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha BiJaksana.” (Ali ‘Imran: 18)

Demikian juga ahlul ilmi adalah orang-orang yang paling takut kepada Allah SWT dan bertaqwa kepada-Nya, Allah berfirman:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama).” (Fathir: 28)

Maka tidak ada yang takut kepada Allah kecuali orang-orang yang berma’rifat kepada-Nya. Dan Allah SWT itu bisa dikenal melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya. Oleh karena itu secara umum masalah ini dimasukkan dalam pembahasan tenrang alam semesta, sebagaimana firman Allah,

“Tidakkah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka ragam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka rnacam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara rnanusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang berrnacam-rnacam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Faathir: 27-28)

Al Qur’an merupakan kitab paling agung yang merangsang pemikiran yang sikap ilmiyah serta menolak segala bentuk khurafat. Tidak dibenarkan adanya sikap taqlid buta terhadap nenek moyang, pemimpin atau pembesar, apalagi kepada orang-orang awam dan bodoh. Dia juga menolak dominasi prasangka dan hawa nafsu dalam konteks pembahasan tentang aqidah dan kebenaran syari’at Allah. Tidak pula menerima suatu pengakuan (teori) kecuali berdasarkan dalil yang pasti dan penyaksian (hipotesa) yang meyakinkan dalam hal-hal yang bisa diindra, dari logika yang benar dalam masalah pemikiran dan penukilan yang terpercaya dalam masalah periwayatan.

Al Qur’an memandang penelitian itu sesuatu yang wajib, berfikir itu suatu ibadah, mencari kebenaran itu suatu qurbah (mendekatkan diri kepada Allah), mempergunakan alat-alat pengetahuan itu sebagai pernyataan syukur terhadap nikmat Allah dan mengabaikan hal itu semua sebagai jalan menuju neraka Jahannam.

Bacalah contoh dari ayat-ayat berikut ini

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutlah apa yang telah diturun Allah,” mereka menjawab, “Tidak,” tetapi kami hanya rnengikuti apa yang telah kami dapat dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?” (Al Baqarah: 170)

“Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka adzab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (Al Ahzab: 67-68)

“Setiap suatu ummat rnasuk (ke dalam Neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah memyesatkan kami, sebab itu datanglah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahuinya.” (Al A’raaf: 38)

“Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengiti persangkaan sedang sesungguhya persangkaan itu tiada berguna sedikit pun terhadap kebenaran.” (An Najm: 28)

“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa-apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada rnereka dari Tuhan mereka.” (An-Najm: 23)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. (Shaad: 26)

“Dan Allah mengeluarkan kamu dan perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesunggguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al Isra’: 36)

“Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Al An’am: 143)

“Katakanlah, “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.” (Al An’am: 148)

“Katakanlah, “Tunjukkanlah (kepadaku) bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Al Baqarah: 111)

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi segala sesuatu yang diciptakan Allah,…” (Al A’raaf: 185)

“Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.” (Yunus: 101)

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu fikirkan (tentang Muhammad), tidak ada penyakit gila sedikitpun pada kawanmu itu.” (Saba’ : 46)

Al Qur’an dalam banyak ayatnya menggunakan kata-kata “Ulil Albaab” “Ulin Nuha” dan “Ulil Abshar.” Yang dimaksud dengan istilah “Bashar” di sini adalah akal, bukan mata yang ada di kepala.

Al Qur’an juga menjelaskan bahwa di dalam kitabnya yang tertulis (Qauliyah) yaitu Al Qur an dan kitabnya yang terlihat (kauniyah) yaitu alam semesta terdapat ayat-ayat (bukti kekuasaan) Allah untuk kaum yang berfikir, kaum yang berakal dan kaum yang berilmu.

Banyak sekali bagian akhir ayat yang mengingatkan akal yang sedang lalai, seperti: “Afalaa ta’qiluun,” “Afalaa tatafakkaruun.”

Para ulama bersepakat bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah, ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah. Fardhu ‘ain adalah ilmu yang menjadi keharusan untuk memahami agamanya, baik aqidah, ibadah atau perilaku (akhlaq) dan juga amal duniawi, sehingga cukup untuk dirinya dan keluarganya dan ikut andil dalam mencukupi umatnya. Adapun yang fardhu kifayah adalah ilmu yang mendukung tegaknya agama dan dunia bagi jamaah Muslimah (kaum Muslimin) yaitu ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia.

Oleh karena itu para ulama menegaskan bahwa mempelajari ilmu kedokteran, tehnik dan yang lainnya dari cabang-cabang ilmu pengetahuan, demikian juga mempelajari ilmu ekonomi yang dapat menopang kehidupan manusia itu merupakan fardhu kifayah bagi ummat. Apabila dari ummat ttu ada sejumlah yang cukup dan ulama, tenaga ahli dan teknisi dalam setiap bidang, di mana telah mencukupi kebutuhan dan mengisi tempat-tempat yang kosong maka ummat itu telah melaksanakan kewajibannya, maka gugurlah dosanya. Tetapi apabila mereka tidak memenuhi satu bidang dari bidang duniawi dan masih bergantung kepada ummat yang lainnya, baik secara keseluruhan atau sebagian atau sebagian maka ummat seluruhnya berdosa, terutama para pemimpinnya.

Atas dasar nilai-nilai inilah maka peradaban Islam bisa tegak menjulang tinggi, kokoh pondasinya dan berpadu antara ilmu pengetahuan dan keimanan.

Tidak dikenal dalam peradaban ini (peradaban Islam) apa yang pernah terjadi di kalangan ummat-ummat yang lainnya berupa pertentangan antara sains (ilmu pengetahuan) dan agama. atau antara hikmah dan syari’ah, atau antara akal dan wahyu. Bahkan banyak dari ulama di bidang agama mereka sekaligus dokter, ahli matematik dan ahli kimia, ahli falak dan lain-lain, seperti Ibnu Rusyd, Fakhrur Razi, Al Khawarizmi, Ibnun Nafis, Ibnu Khaldun dan yang lainnya.

Imam Muhammad Abduh menjelaskan bahwa dasar-dasar Islam itu sesuai dengan ilmu pengetahuan dan kemajuan, beliau menegaskan dengan dalil-dalil nash agama dan sejarah kaum Muslimin, sebagaimana dimuat dalam bukunya, “Al Islam wan Nashraniyah ma’al ‘ilmi wal Madaniyah.”

DUA JENIS PEMIKIRAN (PAHAM) YANG BERBAHAYA BAGI MASYARAKAT

Posted in ARTIKEL on Mei 28, 2007 by yuzvin

Masyarakat Islam saat ini harus dibebaskan dari dua bentuk pemikiran (paham) yang ditransfer kepada mereka dari tatanan masyarakat lain dan telah merasuk ke seluruh lapisan masyarakat, baik masyarakat awam maupun cendekiawan dan ulamanya.

Dua pemikiran itu adalah:

Pertama, berbagai pemahaman yang mempengaruhi kaum Muslimin pada masa-masa terjajah berupa kesalahfahaman mereka tentang Islam. Seperti memahami zuhud dengan meninggalkan sama sekali kehidupan (dunia) ini sehingga dikuasai oleh orang-orang yang kufur; memahami keimanan terhadap taqdir seperti yang difahami oleh kaum Jabariyah; memahami bahwa fiqih adalah mengutip pendapat orang-orang (ulama) dahulu; memahami bahwa pintu ijtihad itu telah ditutup, akal itu berlawanan dengan wahyu; menganggap wanita sebagai sarang (perangkap) syetan; juga pemahaman bahwa Al Qur’an itu bisa digantung untuk memelihara diri dari jin; atau bahwa berkah Sunnah itu terletak pada pembacaan Shahih Bukhari ketika terjadi kesedihan (musibah); dan memahami masalah wali dan karamah dengan pemahaman yang bertentangan dengan sunnatullah. Dan masih banyak lagi pemahaman yang lainnya yang berkembang pada masa kebekuan ilmu dan pemikiran, taklid di bidang fiqih, perdebatan ilmu kalam, penyimpangan di bidang peribadatan, diktator politik dan dekadensi peradaban.

Kedua, berbagai pemahaman yang menyerang masyarakat kita (kaum Muslimin) bersamaan dengan serangan penjajah. Ia masuk dari pintunya, berjalan bersama rombongannya, berlindung di belakangnya dan menjadikan mereka (penjajah) sebagai kiblat dan imamnya, padahal belum pernah ada perjanjian antara mereka dengan kita, bahkan belum pernah terlintas di benak kita.

Itulah pemikiran-pemikian yang menyimpang berkaitan dengan agama dan dunia, laki-laki dan wanita, keutamaan dan kerendahan, kebebasan dan kejumudan, kemajuan dan kemunduran, halal dan haram dan sebagainya. Pemahaman-pemahaman yang membuat rancu/kabur batas-batas yang memisahkan antara kebebasan berfikir dengan kebebasan kufur, antara kebebasan huquq (hak-hak) dengan kebebasan jusuq (kefasikan), antara ilmiyah dan ‘ilmaniyah (sekulerisasi), antara diniyah (agama) dan daulah (negara) Islamiyah.

Itulah mufahim (berbagai pemahaman) ghazwul fikri yang menganggap beriman kepada barang ghaib sebagai keterbelakangan, berpegang teguh pada perilaku pada syari’at Allah adalah sikap ekstrim, beramar ma’ruf dan nahi munkar dianggap ikut campur dalam urusan orang lain, percampuran laki-laki dan perempuan tanpa batas dianggap sebagai wujud kebebasan, kembalinya wanita Muslimah untuk mengenakan hijab syar’i (pakaian yang menutup auratnya) dianggap sebagai kemunduran, memanfaatkan warisan (khasanah) Islam dianggap fanatik, menjadikan ulama sebagai panutan dianggap kuno, sementara para “da’i” (missionaris) Barat dianggap sebagai cendekiawan yang menerangi peradaban ummat.

Maka wajib bagi para da’i, para ulama dan para pemikir lslam untuk mendahulukan pemikiran-pemikiran lslam yang shahih dan orisinil untuk menggusur dan menggeser pemikiran dan pemahaman Barat yang sempat merasuk, baik itu yang lama maupun yang baru. Kedua-duanya sama saja dalam hal menggambarkan lslam dalam wajah yang tidak sesuai aslinya. Semua pemikiran itu beracun, merusak dan sudah basi. Atau sebagaimana dikatakan oleh Ustadz Malik bin Nabi sebagai pemikiran yang mati dan mematikan.

Dari sisi lain, jika kita lihat pada permasalahan ini dalam kerangka keadilan, untuk dapat terhindar dari ekstrimintas maka kita harus mengambil pemahaman yang tengah-tengah. Kita menolak segala bentuk sikap berlebihan, baik ghuluw (berlebihan) maupun iftrath (menyepelekan) sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok-kelompok sekuler dan gerakan pembaratan.

Telah saya sebutkan dalam kitab saya “Al Islam Wal ‘Ilmaniyah” delapan belas pemahaman pokok tentang lslam. Dengannya saya ingin membatasi gambaran lslam yang saya dakwahkan, sehingga tidak ada yang mengira bahwa saya berdakwah kepada lslam yang sulit atau tidak jelas atau khayalan sehingga bisa diinterpretasikan oleh siapa pun sesuai yang mereka inginkan.

Di sini saya kemukakan sekumpulan pemikiran lslam yang cemerlang, sederhana dan lurus yang dibuat oleh ustadz Dr. Ahmad Kamal Abu Majd. Saya sependapat dengan pemikiran beliau secara umum, meski saya juga berbeda dalam sebagian uraiannya.

Kitab ini sendiri mengemukakan gambaran tentang masyarakat lslam yang kita cita-citakan dalam kerangka pemahaman madrasah wushtha (aliran tengah) yang memadukan antara akal dan wahyu, antara agama dan dunia, dan mengkompromikan antara muhkamaatisy syar’i (kekuatan syar’i) dan muqtadhayaatul ‘ashri (tuntutan zaman). Menyeimbangkan antara hal-hal yang konstan (tsawaabit) dan yang mengenal perubahan, menggabung antara salafiyah dan tajdid (yang lama dan yang baru), serta percaya terhadap keterbukaan tanpa harus meleleh/larut dan toleran dengan kebatilan.

Fiqih Pada Abad Modern

Posted in ARTIKEL on Mei 19, 2007 by yuzvin

Menelaah literatur fikih pada zaman klasik, dan antisipasi tantangan fikih pada masa-masa mutaakhir. Pada era global, banyak tantangan dalam intern fikih, untuk selalu eksis menjawab tantangan zaman. Diakui atau tidak, bahwa modernisasi telah menjungkirbalikkan budaya luhur orang timur “termasuk fikih”. Sebab, pada esensinya adanya modernisasi yang berkembang dewsa ini adalah memang di picu dan di becup oleh orang-orang orintalis dan kapitalis barat .

Hal ini mereka lakukan, demi untuk melumpuhkan budaya-budaya yang masih berbahu Islam diseluruh antero dunia. Sehingga, dari implikasi ini, surfi telah membuktikan bahwa budaya luhur Islam sudah semakin rapuh, sudah tidak ada yang simpati lagi. Pada situasi saat ini, tantangan demi tantangan harus dihadapi oleh fikih, khususnya. Sebab, Pada era mutaakhir ini, banyak orang-orang telah mengabaikan fikih, mereka sudah dipengaruhi oleh dokrtin-doktrin kapitalisme dan sekulerisme yang sangat mengakar pada umat saat ini. Lebih ironis lagi, mereka beranggapan bahwa fikih pada saat ini sudah tidak relefan lagi. Dan fikih (fersi ulama’ salaf) tidak bisa menjwab tantangan zaman, dan fikih terkesan pasif, kolot, konserfatif dan tidak realistis.
Mereka, “orang alergi fikih itu” menghimbau pada Pakar-pakar fikih, agar mengadakan rehabilitasi fikih, sesuai dengan perkembangan zaman di era modern dewasa ini. Sebab, “kata mereka” fikih haruslah universal, toleran, tidak kaku seperti fikih doktrin ulama’ salaf. Selayaknya fikih berprinsip pada cermin didalam Islam (yaa assiru walaa thu assiru), bukan bikin rumit umat “papar mereka”.
Banyak cendiawan muslim yang punya gagasan agar merombak fikih, tidak terlalu menoton pada fersi empat mazhab, pada saat ini. Sebab, mereka beralasan, bahwa Para Imam Mujtahid Mutlak, memprodak hukum melalui ijtihad. Sedangkan ijtihad dimunkinkan salah (tidak semua ijtihad benar). Jadi kita pun “celoteh mereka” mampu berbuat ijtihat seperti ulama’ clasik. Dan pada era ini, ijtihad ulama’ salaf sudak tidak layak di aplikasikan di tengah-tengah masyarakat modern. Padahal, mereka yang punya sejuta ide itu, tidak bisa menampilkah secuilpun, kaidah dan usul seperti yang sudah diprodak oleh ulama’ salaf. Mereka hanya bisa mengkritik, berkata ceplas-ceplos
tampa ada bukti dari perkataan mereka. Seandainya mereka mau bercermin justru mereka harus malu dan harus menjilat ludah yang telah mereka lontarkan itu. Sebab, mereka tidak punya kaya yang dapat disumbangkan untuk memperkaya khazanah Islam seperti ulama’ salaf. Memang kritikan itu baik, asalkan kalau kritikan itu beralasan dan bukan semata-mata untuk mendiskriditkan dan mengkambing hitamkan orang lain apa lagi pada beliau (ulama’ salaf) yang sudah begitu banyak berjasa pada perkembangan Islam sampai pada saat ini. Sebenarnya, para fuqoha’ clasik sudah memberikan lampu hijau. Bahwa, bagi siapapun boleh memprodak hukum dari Al-quran dan al-hadist. Asalkan ia punya kredibilitas dan kapabilitas akan hal tersebut. Namun, kenyataan pada saat ini sudak tidak dimunkinkan lagi seseorang akan figur mujtahid yang sekaliber Syafi’i. Sebab, terlalu banyak persyaratan yang harus depunuhi sebagai kapasitas mujtahid. Antara lain harus tahu dengan sebeluk-beluk ayat al-quan yang mengandung hukum meliputi Yang al-Aam dan yang al-Khas, yang mutlak dan yang muqayyad, yang muhkam dan yang mautasyabih dan tahu dengan Hadist yang mutawatir dan yang Aahad, mengusai  bahasa arab dan lain sebagainya.  

Pada dasarnya Mujtahid mutlak (orang yang punya kapabilitas dan kredibilitas untuk menggali hukum dari Alquran dan al-Hadis) sudah di tutup pada 300 hijriah yang silam. Namun, dibawah mujtahid mutlak, masih ada mujtahid mazhab (orang yang bisa menggali hukum dari kaidah imamnya) dan mujtahid fatwa (orang yang mampu mengunggulkan keragaman dua pedapat imamnya). Dari dua sosok mujtahid ini (mujtahid mazhab dan fatwa), peranan fikih masih tetap dominan mengikuti perkembangan zaman sampai pada saat ini. Dewasa ini, fikih sudah mengalami banyak kemunduran. Sebab, kader-kader fikih yang profesional tidak seperti pemotor fikih pada fase pertama dan penerusnya (di masa keemasan fiqih dulu). Kemunduran dalam fikih memang dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama semakin minimnya kader fikih yang berkualitas dan punya kapabilitas dan kredibelitas untuk selalu menggali hokum yang bisa penyebab berlangsungnya fikih, berkenaan dengan problematika social yang terus bermuculan saat ini. Kedua kurangnya kader-kder yang tertarik dan simpati pada fikih. Dari pelbagai lapisan masyarakat banyak yang dipengaruhi oleh umpana-umpanan orang-orang kapitalis barat. Ketiga sugesti dan mutifasi pada orang yang ingin memperdalam fikih sudah tidak ada, dikarnakn tidak adanya jaminan material sama sekali dalam orientasi fikih, semuanya hanya semata-mata krena Allah.  
Pada fase pertama fiqih memang pada dasarnya pernah mencapai masa keemasan. Sebab, pemotor fiqih pada fase itu adalah empat imam yang masih tetap dianut mazhabnya sampai saat ini ( Imam abu hanifah, malik, syafi’i dan imam achmad bin hambal). Pada esensinya pada masa keemasan fiqih itu, tidak hanya keempat imam diatas, yang se-lefel dalam predikat mujtahid mutlak  Akan tetapi, lebih dari sebelas mujtahid mutlak lainnya yang juga sama-sama punya kapabilitas dan kredibiltas sebagai mujtahid mutlak, misalnya Imam sufyan al-tsauri, daud al-dhohiri, Sufyan Ibn Uyainah, Abdurrahman Ibn Amr al-Auza’I dan lainnya. Namun, dari masa ke masa mazahab-mazahab dari sekian banyak mujtahid mutlak tersebut pasang surut dan tidak bisa bertahan lebih lama, mengingat beberapa faktor: Pertama, mazahab mereka tidak dikodifikasikan secara formal (mudawwan) seperti mazhab yang tetap eksis saat ini. Kedua, murid-murd dari pada para mujtahid mutlak tersebut tidak mengembangkan kaidah dan ushul dari Imamnya. Ketiga, kebanyakan mazhab mereka sudah terwakikili ada di dalam keempat mazhab yang empat diatas (hanafiah, malikiyah, syafi’iyah dan hanabalah). Sehingga dari kurun waktu ke waktu yang bisa bertahan sampai saat ini hanyalah empat mazhab diatas.
   Peranan fiqih untuk selalu eksis sepanjang zaman sangat ditentukan oleh kader-kader yang jentelmen dari kurun waktu ke waktu, dari masa kemasa. Seharusnya pada para generasi muda lebih menyikapi masalah fikih pada saat ini yang sudah semakin kembang kempis. Untuk para cendikiawan muslim yang anti fikih hendaknya tidak menjadi penggembos pada para simpati fikih pada saat ini. 
Pada era yang plural dan cukup pelik ini, semestinya kader fiqih “patah tumbuh hilang berganti”. Namun, idialisme itu sudah tinggal harapan, yang entah kapan realisasinya, sehingga fiqih bisa menjadi jaya dan menjadi dambaan bagi setiap orang, seperti pada masa clasik dulu. Sebab, semestinya fikih ini adalah suatu dasar bagi tiap-tiap orang untuk melangkah, melaksanakan kegiatannya sehari-hari, berinteraksi sosial, berbisnis, berbudaya, berpolitik dan lain sebagainya.

Nabi saw. Telah menegaskan. Bahwa, orang yang di kehendaki baik oleh Allah, niscaya dia akan Allah anugrahi faham dan mengerti tentang agama (fikih). Dan faham terhadap agama ini adalah yang disebut dengan “fikih”. Jadi, kalau seseorang sudah tidak tahu atas permasalahan agama apakah sudah dibetulkan oleh hukum ? apalagi sampai merongrong pada peminatnya tentu orang itu perlu di curigai ke Islamannya. Jadi, untuk zaman sangat global ini, hendaklah para generasi tetap lebih mementingkan keberlangsungan fikih untuk selalu eksis sepanjang masa. Dan pada saat sangat dibutuhkan orang punya kapabilitas dan keredibilitas untuk selalu merekontruksi ke berlangsungan fikih di sepanjang zaman. Bagi semua kalangan haruslah terus berupaya membendung serangan-serangan liberalisme, kapitalisme dan sekulerisme yang semakin marak dewasa ini. Dan semua pihak, haruslah tetap menghargai para salaf al-salih yang  telah banyak berjasa pada Islam. Dan kita semua haruslah membela Islam sampai titik darah penghabisan.

Bagaimana Memahami Ayat Allah di Alam

Posted in ARTIKEL on Mei 19, 2007 by yuzvin

Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya. Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191)Di banyak ayat dalam Alqur’an, pernyataan seperti, “Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”, “terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang berakal,” memberikan penegasan tentang pentingnya memikirkan secara mendalam tentang tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah telah menciptakan beragam ciptaan yang tak terhitung jumlahnya untuk direnungkan. Segala sesuatu yang kita saksikan dan rasakan di langit, di bumi dan segala sesuatu di antara keduanya adalah perwujudan dari kesempurnaan penciptaan oleh Allah, dan oleh karenanya menjadi bahan yang patut untuk direnungkan. Satu ayat berikut memberikan contoh akan nikmat Allah ini:Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. (QS. An-Nahl, 16:11)Marilah kita berpikir sejenak tentang satu saja dari beberapa ciptaan Allah yang disebutkan dalam ayat di atas, yakni kurma. Sebagaimana diketahui, pohon kurma tumbuh dari sebutir biji di dalam tanah. Berawal dari biji mungil ini, yang berukuran kurang dari satu sentimeter kubik, muncul sebuah pohon besar berukuran panjang 4-5 meter dengan berat ratusan kilogram. Satu-satunya sumber bahan baku yang dapat digunakan oleh biji ini ketika tumbuh dan berkembang membentuk wujud pohon besar ini adalah tanah tempat biji tersebut berada.Bagaimanakah sebutir biji mengetahui cara membentuk sebatang pohon? Bagaimana ia dapat berpikir untuk menguraikan dan memanfaatkan zat-zat di dalam tanah yang diperlukan untuk pembentukan kayu? Bagaimana ia dapat memperkirakan bentuk dan struktur yang diperlukan dalam membentuk pohon? Pertanyaan yang terakhir ini sangatlah penting, sebab pohon yang pada akhirnya muncul dari biji tersebut bukanlah sekedar kayu gelondongan. Ia adalah makhluk hidup yang kompleks yang memiliki akar untuk menyerap zat-zat dari dalam tanah. Akar ini memiliki pembuluh yang mengangkut zat-zat ini dan yang memiliki cabang-cabang yang tersusun rapi sempurna. Seorang manusia akan mengalami kesulitan hanya untuk sekedar menggambar sebatang pohon. Sebaliknya sebutir biji yang tampak sederhana ini mampu membuat wujud yang sungguh sangat kompleks hanya dengan menggunakan zat-zat yang ada di dalam tanah.Pengkajian ini menyimpulkan bahwa sebutir biji ternyata sangatlah cerdas dan pintar, bahkan lebih jenius daripada kita. Atau untuk lebih tepatnya, terdapat kecerdasan mengagumkan dalam apa yang dilakukan oleh biji. Namun, apakah sumber kecerdasan tersebut? Mungkinkah sebutir biji memiliki kecerdasan dan daya ingat yang luar biasa?Tak diragukan lagi, pertanyaan ini memiliki satu jawaban: biji tersebut telah diciptakan oleh Dzat yang memiliki kemampuan membuat sebatang pohon. Dengan kata lain biji tersebut telah diprogram sejak awal keberadaannya. Semua biji-bijian di muka bumi ini ada dalam pengetahuan Allah dan tumbuh berkembang karena Ilmu-Nya yang tak terbatas. Dalam sebuah ayat disebutkan:Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkah tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). (QS. Al-An’aam, 6:59).Dialah Allah yang menciptakan biji-bijian dan menumbuhkannya sebagai tumbuh-tumbuhan baru. Dalam ayat lain Allah menyatakan:Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al-An’aam, 6:95)

Biji hanyalah satu dari banyak tanda-tanda kekuasaan Allah yang diciptakan-Nya di alam semesta. Ketika manusia mulai berpikir tidak hanya menggunakan akal, akan tetapi juga dengan hati mereka, dan kemudian bertanya pada diri mereka sendiri pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana”, maka mereka akan sampai pada pemahaman bahwa seluruh alam semesta ini adalah bukti keberadaan dan kekuasaan Allah SWT.

Dunia Didominasi 2 Ideologi Ekstrim

Posted in ARTIKEL on Mei 19, 2007 by yuzvin

Dunia di era globalisasi saat ini cenderung didominasi dua ideologi yang sifatnya ekstrim. Satu ideologi ekstrim kiri diwakili oleh Presiden Amerika Serikat George W Bush dan sekutunya, sedangkan idelogi ekstrim kanan diwakili oleh kelompok garis keras Usama Bin Laden csHal itu diungkapkan KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus saat memberikan ceramah di hadapan ribuan umat Islam pada acara pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Darul Muhtadin Purworejo.Karena kecenderungan tersebut, maka dalam beberapa waktu terakhir eskalasi kekerasan terus meningkat. “Dunia sudah dikotak-kotakkan. Ini teroris yang harus dihancurkan dan ini tidak,” ujar Gus Mus.

Menurut Gus Mus,
Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam memiliki potensi yang besar untuk mengambil sikap jalan tengah. Artinya tidak memihak ekstrim kanan dan juga tidak memihak ekstrim kiri.

Sayang sekali, lanjutnya, kelompok yang seharusnya mengambil sikap jalan tengah ini terlalu lemah dan tidak memiliki nilai tawar. “Kiai dan NU ini
kan potensial menjadi kelompok jalan tengah. Tapi sayang lemah,” ujar Gus Mus menyebutkan salah satu kelompok Islam garis keras di
Indonesia yang lebih memiliki nilai tawar.

Dituturkan Gus Mus, sebaik-baik sikap adalah jalan tengah. Ini sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. “Sikap tawassut wa’tidal ini sikap nabi yang harus kita teladani,” katanya mengutip salah satu hadits nabi, khorul umuri ausatuha (sebaik-baiknya perkara adalah mengambil jalan tengah, Red).

Di dalam Alquran sendiri, kata Gus Mus, takdir umat Islam adalah umat tengah-tengah yang menjadi saksi dari perkembangan peradaban dunia. “Kalau sudah memihak salah satu kelompok ekstrim, jadinya bubrah,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini, Gus Mus juga memberikan nasihat kepada para pemimpin negeri ini, termasuk Bupati Kelik Sumrahadi yang juga hadir dalam pengajian. Saran Gus Mus, pempimpin atau umara jangan neko-neko dalam mengelola pemerintahan. “Cukup dengan adil dan berlaku istiqamah saja. Dengan begitu, bupati sudah bisa menjadi orang yang sholeh,” jelas Gus Mus.

Semua orang memiliki potensi menjadi orang sholeh, asalkan menjalankan perintah Allah sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. “Yang jadi bupati ya adil jangan malah korupsi,” kata Gus Mus menambahkan sikap Rasulullah yang paling sulit diteladani adalah dalam hal kepemimpinannya.