Progresivitas Kaum Santri

Kini para santri itu tak hanya bertumpu pada pemikiran tokoh-tokoh seperti al-Subki, al-Syathibi, al-Thufi, dan Ibnu Rusyd, tapi mulai merambah dan menjelajahi pemikiran tokoh-tokoh seperti Hans-George Gadamer (hermeneutika), Ferdinad de Saussure (linguistik), Michel Foucault (epistemologi), dan Roland Barthes (semiologi).Ketika berkunjung ke beberapa pesantren, terutama di Jawa dan Madura, saya kerap berjumpa dengan sekelompok santri muda yang sedang bergairah dalam mengembangkan tradisi keilmuan baru. Mereka yang umumnya lahir di akhir tahun 1970-an atau awal 1980-an itu, giat melakukan pengkajian kritis dan kontekstual terhadap teks-teks kitab kuning; kitab pedoman keagamaan yang dianggap “sakral”, yang biasanya hanya dihafal dan dipahami terutama pada tingkat kebahasaan. Kitab-kitab seperti Fathul Qarîb, al-Minhâj al-Qawîm, al-Muhadzdzab, Bughyatul Mustarsyidîn, Nihâyatul Muhtâj, dan lain-lain, tak lagi dibaca dari sudut normatifnya saja, melainkan ditelaah dari konteks historisnya. Mereka meneliti, misalnya, dalam suasana dan kondisi sosial-politik seperti apa sebuah teks (buku) ditulis. Pengetahuan seperti itu sangat diperlukan untuk mengungkap lapis-lapis makna dari sebuah teks.Tak berhenti di situ, mereka juga menerapkan teori dekonstruksi dan hermeneutika—metode pemahaman teks paling anyar yang sering digunakan kalangan posmodernis—pada teks-teks keagamaan. Muaranya, semua teks, menurut mereka, haruslah didialogkan dalam kerangka yang dialektis dengan kenyataan konkret di masyarakat. Hanya dengan cara itu, tandas mereka, teks dapat berbunyi dan bermakna bagi pengalaman kesejarahan manusia. Itu sangat diperlukan agar pemahaman keagamaan tidak terjatuh dalam kedangkalan. Mereka pun tak ragu mempertanyakan arkeologi pengetahuan yang membentuk genre pemikiran keislaman. Tidak serupa dengan sebagian besar para seniornya, anak-anak muda itu rajin menggelorakan ijtihad, karena produk ijtihad—betapapun tak sempurnanya—bagi mereka selalu berpahala.Pemandangan ini menegaskan satu hal. Bahwa di sebagian pesantren telah terjadi transformasi paradigmatik. Di
sana ada pergeseran kecenderungan pemikiran keagamaan dari yang tekstualis menuju kontekstualis; dari orientasi produk pemikiran (fikih) menuju proses pembentukan pemikiran (ushul fikih); dari orientasi kebahasaan per se menuju orientasi substansi.
Pada hemat saya, progresivitas para santri tersebut tak bisa dilepaskan dari kontribusi para pendahulunya seperti Gus Dur, almarhum Cak Nur, Masdar F. Masu’di, KH. Aqil Siradj, KH. Husein Muhammad, dan lain-lain. Dari mereka inilah tampaknya para santri berkenalan dengan arus-arus pemikiran baru di dalam Islam. Akhirnya, santri-santri itu terbangun dari tidur dogmatiknya yang amat panjang.Kini para santri itu tak hanya bertumpu pada pemikiran tokoh-tokoh seperti al-Subki, al-Syathibi, al-Thufi, dan Ibnu Rusyd, tapi mulai merambah dan menjelajahi pemikiran tokoh-tokoh seperti Hans-George Gadamer (hermeneutika), Ferdinad de Saussure (linguistik), Michel Foucault (epistemologi), dan Roland Barthes (semiologi). Mereka mulai fasih mengutip pandangan para pemikir Barat itu, di samping para pemikir Islam kontemporer seperti Hassan Hanafi, Mohamed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid, Mohamad Syahrur, dan lain-lain. Bacaan para santri itu pun mulai beragam, tak melulu kitab kuning, tapi juga kitab putih dengan kandungan filsafat, analisis sosial, dan kritik wacana yang kental.Saya memprediksi, santri-santri muda dengan kesadaran baru itu akan terus bertambah populasinya dan suatu saat akan mengharu-biru ke santri-santri yang tinggal di kawasan lain. Dalam dua puluh tahun yang akan datang, tatkala mereka sudah memasuki usia dewasa, kita akan melihat sesuatu yang lain dari orang-orang pesantren. Ketika para “orang tua” mereka sudah banyak yang letih, uzur, dan turun tahta, merekalah yang akan memegang posisi-posisi penting, baik di lembaga pendidikan seperti pesantren maupun di ormas-ormas keislaman seperti NU. Bayangkanlah, apa yang akan terjadi! 

Tinggalkan Balasan